Demi waktu sesungguhnya manusia dalam kerugian, Kecuali mereka yangBeriman dan ber amal sholeh(berbuat baik) dan yang mengajak kepada kebaikan (Kebenaran) dan menyeru kepada kesabaran.
| Meneruskan Kebiasaan Menulis | | | |
| Wednesday, 16 June 2010 01:38 |
| Pada hari ini, sudah genap dua tahun, saya memiliki kebiasaan menulis di pagi hari. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya menulis, tetapi tidak rutin. Biasanya sepulang dari masjid, sholat berjamaáh bersama keluarga dan tetangga, saya mengisi waktu dengan cara menulis artikel pendek dan juga sederhana. Tradisi menulis secara rutin itu sudah saya jalani selama dua tahun, dan ternyata belum pernah jeda sehari pun.
Apa yang saya tulis pada setiap pagi itu, tidak terfokus pada persoalan tertentu. Apa saja yang saya ingat dan ingin saya tulis, maka saya tulislah. Misalnya, saya sedang ingat persoalan pendidikan, maka saya menulisnya tentang itu. Pada pagi berikutnya, saya ingat dan terkesan tentang sebuah ayat al Qurán, maka saya menulisnya. Pada saat lainnya, saya tertarik dengan persoalan politik, ekonomi, korupsi, maka saya menulisnya tentang itu, dan seterusnya.
Tulisan-tulisan tersebut segera saya posting lewat website dan juga lewat facebook. Semula saya tidak mengira kalau tulisan tersebut akan dibaca orang. Tetapi ternyata banyak sekali yang membacanya. Melihat banyaknya para pembaca dan apalagi, mereka berkenan memberi komentar, semangat saya menjadi hidup. Saya menjadi sangat senang, bahwa ternyata tulisan-tulisan saya dianggap ada manfaatnya.
Melihat respon yang cukup banyak dan semuanya positif, akhirnya saya merasa berhutang dan harus segera saya bayar, jika tulisan terlambat saya buat, karena sesuatu alasan tertentu. Misalnya, saya dalam perjalanan ke luar kota, dan bahkan ke luar negeri. Dalam suasana seperti itu, saya tidak bisa menulis tepat waktu. Gangguan lainnya, pada saat-saat tertentu, sinyal internet di rumah tidak muncul, sehingga tulisan yang telah saya buat tidak bisa saya posting.
Kebiasaan sederhana ini, ternyata mendatangkan pertanyaan dari teman-teman, misalnya kapan biasanya menulis, dari mana mendapatkan ide untuk ditulis, dan bagaimana hal itu bisa dilakukan secara istiqomah. Padahal menurut sementara teman, menulis itu tidak gampang. Artinya, tidak semua orang bisa menulis. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, biasanya saya jawab sebagaimana saya tulis berikut.
Saya menulis artikel pendek tersebut, biasanya pada setiap pagi, bakda sholat subuh, sepulang dari masjid. Pada awalnya, kegiatan menulis itu hanya saya maksudkan untuk mengisi waktu luang saja. Setelah sholat subuh, saya kira semua orang, ------kecuali para pedagang atau petani yang harus segera menunaikan pekerjaannya, memiliki waktu luang yang bisa dimanfaatkan apa saja.
Memang ada beberapa alternative kegiatan untuk mengisi waktu luang, pagi setelah sholat subuh sebelum pergi ke kantor, misalnya olah raga. Hanya saja, selesai subuh biasanya suasana masih gelap, sehingga kurang cocok untuk kegiatan itu. Alternatif lainnya, adalah membantu bersih-bersih rumah atau ikut menyelesaikan tugas-tugas dapur. Tetapi jenis ini, seringkali juga diangap kurang tepat, karena pekerjaan itu sudah dikerjakan oleh pembantu rumah tangga. Sedangkan umpama mau tidur lagi, juga tidak pantas. Maka, satu-satunya alternative yang tepat dan mudah adalah menulis artikel.
Untuk mendapatkan ide yang akan ditulis, menurut pengalaman selama ini, tidak pernah mengalami kesulitan. Sepulang dari masjid, selalu saja muncul hal-hal yang saya rasa menarik ditulis. Karena tulisan-tulisan yang saya buat sangat sederhana, pendek, dan tentang hal-hal yang saya anggap actual, maka menulisnya juga tidak terasa sulit.
Selain itu, tatkala menulis saya tidak pernah merasa terbebani, misalnya tulisan yang saya buat harus baik dan sempurna. Sebaliknya, saya juga tidak pernah khawatir, bahwa tulisan saya akan dianggap jelek, atau tidak berkualitas, sehingga akan dikritik dan dicemoohkan orang. Saya tidak pernah peduli dengan hal itu semua. Suasana batin seperti itu kiranya menjadikan pikiran dan hati tidak terbebani, sehingga menulis menjadi mudah.
Pertanyaan berikutnya, tentang bagaimana bisa istiqomah, artinya selalu menulis. Jawabnya, saya kira hal itu terkait dengan pandangan hidup yang saya yakini. Saya selalu membayangkan bahwa hidup ini adalah karunia Allah yang sangat mahal. Oleh karena itu umur yang tidak terlalu panjang harus diisi sebaik-baiknya. Hidup ini harus membuahkan bekas dan tidak boleh dibiarkan kosong begitu saja.
Saya selalu merenung dan membayangkan bahwa hari tertentu, bulan tertentu, dan juga tahun tertentu, tidak pernah kembali atau datang berulang. Sebagai misal, pada hari Rabu, tanggal 16 Juni 2010, sepanjang usia jagad raya ini hanya datang sekali. Tidak pernah akan datang lagi hari, tanggal, bulan dan tahun itu. Oleh karena itu, jika pada hari itu tidak diisi dengan sesuatu yang bermanfaat akan blank atau kosong.
Selain itu, saya juga berkeinginan agar pada setiap detik, jam, hari, bulan atau tahun, yang saya lewati dalam hidup ini, ada bukti bahwa saya telah melakukan sesuatu. Syukur bahwa sesuatu yang dimaksudkan itu adalah kebaikan, dalam arti memberi manfaat bagi orang lain. Kegiatan dan atau kebaikan itu saya harapkan menjadi bukti, bahwa pada saat itu saya masih hidup.
Pada hari ini, Rabu, tanggal 16 Juni 2010, dengan menulis maka artinya, saya masih hidup. Sebagai buktinya, terdapat dokumen berupa tulisan saya tentang “meneruskan kebiasaan menulis”. Tulisan ini, bagi saya adalah sebagai bukti, bahwa di pagi ini saya masih hidup. Umpama saya tidak menulis, maka bisa jadi orang lupa, tidak tahu, atau tidak percaya bahwa saya benar-benar masih ada di hari ini.
Berpikir seperti ini, maka menjadikan saya berusaha terus menulis dan tidak meninggalkannya, sekalipun misalnya dalam keadaan yang kurang sehat, atau sedang bepergian, atau ada halangan lainnya. Oleh karena sudah menjadi kebiasaan, maka pada diri saya terasa ada sesuatu yang kurang lengkap jika tidak menulis. Setelah menulis, dan kemudian direspon dan dikomentari para pembaca, maka terasa bahagia, seolah-olah pada hari itu, telah memberi sesuatu pada orang lain.
Pekerjaan menulis, menurut hemat saya, tidak sulit dan akan bisa dilakukan oleh siapa saja. Sehingga, kalau ada orang, ------apalagi seorang sarjana, guru atau dosen, tidak pernah menulis, maka menurut hemat saya, bukan karena mereka tidak bisa menulis, melainkan hanya karena tidak mau menulis. Membikin seseorang menjadi mau melakukan sesuatu, kadang jauh lebih sulit daripada membuat mereka bisa atau mampu. Akibatnya, banyak orang yang sesungguhnya memiliki kemampuan menulis, tetapi tidak pernah mau menulis. Wallahu a’lam. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar